Wednesday, October 28, 2015

Sajak Tanpa Judul

Kepada yang terkasih
yang berjarak ruang
serta detik yang bersimbahan
dan tak seorang pun kuasa memungut

Kepada yang terkasih
yang disekat butir-butir alasan
dan dipisahkan sehelai kertas
yang dipatrikan tinta sangsi

Mungkin
aku belum pantas
menempati ruang itu
Ruang yang aku tidak yakin
akankah hampa atau terisi

Thursday, October 22, 2015

Tiang-tiang Tegak

Halo, bintang
Aku terkenang kernyit dahi kawanku
Mereka semua berlontar tanya
mengapa tiang-tiang tetap berdiri
Tiang-tiang kayu yang seakan lapuk
namun tetap tegar diterpa angin

Tuesday, October 6, 2015

Bintang yang Baru

Kak,
Adinda sudah menemukan bintang lain
Bintang itu lebih dekat
Sekilas, pijarnya bahkan lebih cemerlang

Kak,
akankah kamu marah
bila Adinda menggapai bintang itu?
Tangan Adinda tidak kosong
Adinda harus melepas genggaman
bila hasrat ini merindukan cahayanya

Kak,
apabila kamu marah,
Adinda akan berhenti merentangkan jemari
agar kerlap sinarmu tiada lolos
dari sela-sela tanganku

Kak,
Adinda masih merindukan
pijar cahayamu yang meski redup
namun lebih hangat
dibanding bintang-bintang lain
yang bertebaran
menerangi gulita ruang waktuku.

Tegak yang Rubuh

Pagi, bintang
Hari ini, tiang yang berdiri kokoh telah runtuh.
Namun, mentari tetap harus terbit
Bumi harus tetap ditapaki
Jadi, aku harus mengangkat daguku
Aku tetap memunguti bulir detik yang tercecer
agar arah lintasku tiada berpindah.