Monday, November 30, 2015

Cerita untuk Bintang (2)

Hai bintang,
terkadang di kepalaku timbul tanya
Akankah kamu pernah merindukan kegelapan?
Saat di sekitarmu terdapat
gugusan bintang yang jauh lebih terang
dibandingkan kamu sendirian?

Pernahkah kamu merindukan kedinginan
yang  menusuk tulang merasuk sukma
ketika kamu hanya dilingkupi panas yang membara
jauh lebih membara
dibandingkan kamu sendirian?

Aku enggan mengatakan ini
namun aku bersedia
untuk mematikan dianku
Aku bersedia jadi gulita untukmu
agar kamu kembali punya sesuatu untuk diterangi
Agar kamu merasa
sinarmu berguna bagi yang lain
dan agar kamu merasa
bahwa ada yang melengkapimu
dan kamu tidak sendirian.

Cerita untuk Bintang (1)

Hai, bintang!
Ini aku yang selalu mengharap pijar cahayamu
Aku punya cerita
Tempo hari, aku berusaha menggapai sinarmu
kemudian, aku memindahkan berkas-berkas terang itu
ke suatu tempat
yang sekiranya membuat terangmu lebih gemilang

Apakah aku berhasil?
Ya, aku berhasil!
Tuhan pun seakan mengizinkanku
untuk mengembalikan cahaya yang kupinjam itu
kepada sang bintang
agar ia tahu sinarnya belum redup

Namun,
sebelum aku meraih gugusmu,
aku harus melewati jembatan yang panjang sekali
Aku menitinya setiap hari
hingga akhirnya jembatan itu memendek
dan membawaku menembus gugusan bintangmu

Tapi aku tidak khawatir
karena tak akan lama lagi,
cahayamu akan jatuh tepat di depan wajahku
dan menggantikan segala dian semu
yang selama ini berusaha kunikmati

Ya, semuanya akan terjadi
meski hanya sekejap  mata.


Meski hanya sekejap mata.

Thursday, November 26, 2015

Jendela


Jendela
Jendela yang terbuka sedikit
Jendela yang menghadirkan sedikit semilir angin
Jendela yang nyaris tertutup
terlihat gelap dari luar
namun benderang di dalamnya

Jendela
Jendela yang tirainya panjang
Jendela yang kuncinya rapat
dan sulit diterawang dari kejauhan

Jendela
Jendela yang membuatku berandai
akankah ruang di dalamnya hangat
atau dingin terbalut gulita

Aku kerap melewati jendela itu
memandangnya dari jauh seraya tertegun
alangkah beruntungnya apabila aku
bisa menyibak tirainya dan tahu
apa yang tersembunyi di balik jendela itu.

Saturday, November 21, 2015

Tertidur untuk Bangun

Berat kedua kaki
mencoba menapaki hari
Terang surya menyeruak
hanya tertangkap kelam di mataku

Nyaris diri berbuah tanya
Untuk apa semua ini
Demi siapa aku berdiri
Akan jadi apa untaian benang yang kurajut

Aku terus berjalan
berjalan dan berjalan
berharap menemukan ujung lorong
namun hanya gulita yang kujumpai

Kaki terlipat di tengah gelap
Menengadah pun aku tak mampu
Namun terjulur tangan dari jauh
mengajakku untuk kembali berjalan

Aku menyambut tangan itu
Genggaman yang terasa hangat
dan membuatku berani
melanjutkan untaian benangku kembali

Genggaman itu menuntunku
berlari dan terus berlari
untuk menemukan ujung lorong
yang diliputi kegelapan

Gulita pun makin pudar
Roda-roda pun kian mantap bergulir
Jawab dari tanyaku pun akhirnya muncul
Bentuk apa yang olehku terjalin kelak

Terima kasih kulantunkan
bagi empunya tangan itu
Tangan yang kembali menegakkan pasakku
dan pemiliknya adalah kamu

Wednesday, November 4, 2015

Gerbong yang Aneh

Halo, kertas
Sekarang, aku sedang menumpang
pada suatu gerbong kereta
yang bahkan aku tak tahu
ke mana arah tujuannya

Kereta ini terus melaju
Apabila aku terjaga,
jalan kereta ini seperti mengalir
Namun bila aku tertidur
laju gerbong ini begitu cepat

Mula-mula aku bingung
mengapa aku duduk di dalam gerbong ini
Aku seringkali ingin turun
namun lajunya tak kunjung berhenti.

Monday, November 2, 2015

Esa


Untuk kamu
bintang yang jauh
bintang yang berpijar tidak lebih terang dari kawannya
bintang yang sulit untuk diraih
bintang yang hampir mustahil kugenggam

aku tidak tahu
akankah kamu masa laluku
yang seharusnya kutimbun rapat-rapat
dan tak seharusnya kutengok kembali

ataukah
kamu masa depanku
yang menjanjikan seberkas cahaya
untuk menerangi jalan lurusku
dan sepantasnya kuperjuangkan