Sunday, February 28, 2016

Seuntai Rindu untuk Bintang

Hai, bintang
Aku berandai apa kabar dirimu gerangan
Sudah lama sejak aku terakhir menyaksikan kilaumu
Sudah lama pula kau tak nampak di ufuk malamku
Masihkah engkau membara seperti biasanya? Ataukah cahayamu sudah meredup?

Bintang,
Aku sudah berusaha melepaskan diriku dari sinarmu
Aku pun sudah menemukan hiasan gugus bintang yang lain
namun dian yang mereka punya tak secemerlang milikmu

Aku sedang menikmati gulita yang kumiliki
Entah itu tulus atau hanya pura-pura
Namun ternyata
cakrawala gelapku rindu akan benderang dirimu

Saat aku mendongak ke langit malam
aku menggumam namamu dalam sunyi
dan berharap suara senyapku terbalas
meski itu hampir tak mungkin

Bintang,
saat kamu membaca jalinan huruf ini
apakah timbul rasa hampa yang janggal
seperti apa yang datang ke relung dadaku
saat aku menulis ini?


Akankah rinduku bersambut? Sekali saja?

Saturday, February 27, 2016

Teman



Teman itu datang dan pergi
Teman datang saat mereka peduli
Teman pergi saat mereka lebih peduli akan yang lain

Racun


Racun itu kelam
Racun itu senyap
Namun bagiku racun itu bising
lebih bising daripada tong yang kosong

Friday, February 26, 2016

Aku


Berjalan
berjalan
diam
lalu tersenyum
tidak pada siapa-siapa

Berjalan
berjalan lagi
diam
lalu tertawa
padahal sekeliling sedang senyap

Berjalan
terus berjalan
diam
terus diam
padahal diajak bicara

Bulan dan Matahari



Hai, semesta
Aku menemukan hiasan galaksi kembali
dan kali ini aku menemukan dua
Yang satu bulan, yang satu lagi adalah matahari

Aku akan mengenalkanmu pada bulan
Bulan adalah dia yang dingin dan kelam pada kesan pertama
Namun, ketika malam datang, ia bersinar paling terang
bahkan lebih benderang ketimbang bintang-bintang

Sebenarnya, menemui bulan tidak sulit
Aku hanya harus menunggu sang pagi beranjak

Lalu yang kedua adalah matahari
Matahari adalah sosok yang hangat
Apabila kamu berada di dekatnya,
benderang sinarnya akan dengan mudah merasukimu

Ya, matahari memang pusat perhatian
Segenap isi gugusan bintang mengelilinginya
Sama seperti bulan, aku tak bisa selalu melihatnya
karena saat pagi beranjak, ia akan pergi
dan hanya sisa-sisa berkas pantulan cahayanya yang tertinggal

Dan ketika bulan bertemu dengan matahari, aku bingung
Apakah rupa indah sang bulan yang membuatku terpana
atau cahaya matahari yang terpancar sembunyi-sembunyi di baliknya

Tuesday, February 23, 2016

Salam Perpisahan

Hai bintang!
Lama tidak bersua, ya?
Sadarkah kamu bahwa aku berjalan mundur
dan berhenti mengambil langkah yang sama denganmu?
Sadarkah kamu bahwa
terang cahayamu tak lagi jatuh tepat di depanku?

Kini aku berjalan melawan arahmu
dan memperpanjang bentang ruang antara aku dan kamu
Akankah kamu merasa kehilangan?
adakah hampa yang kamu rasakan?

Jika iya, aku pun merasa.
Terkadang, aku yang gelap ini pun rindu dian pelitamu
karena kamu adalah bintang paling terang
yang cahayanya pernah menerangi gulitaku.

Namun,
apabila kamu bersedih,
ingatlah bahwa semesta ini berputar.
Apabila Tuhan mengizinkan,
suratan takdir akan mempersandingkan kita kembali
dan apabila aku memang rusukmu,
aku akan kembali datang melengkapimu.

Sampai jumpa lagi,
semoga perpisahan ini tak selamanya.


Dari aku, sebongkah hitam yang pernah kauterangi.