Hai bintang,
terkadang di kepalaku timbul tanya
Akankah kamu pernah merindukan kegelapan?
Saat di sekitarmu terdapat
gugusan bintang yang jauh lebih terang
dibandingkan kamu sendirian?
Pernahkah kamu merindukan kedinginan
yang menusuk tulang merasuk sukma
ketika kamu hanya dilingkupi panas yang membara
jauh lebih membara
dibandingkan kamu sendirian?
Aku enggan mengatakan ini
namun aku bersedia
untuk mematikan dianku
Aku bersedia jadi gulita untukmu
agar kamu kembali punya sesuatu untuk diterangi
Agar kamu merasa
sinarmu berguna bagi yang lain
dan agar kamu merasa
bahwa ada yang melengkapimu
dan kamu tidak sendirian.
Monday, November 30, 2015
Cerita untuk Bintang (1)
Hai, bintang!
Ini aku yang selalu mengharap pijar cahayamu
Aku punya cerita
Tempo hari, aku berusaha menggapai sinarmu
kemudian, aku memindahkan berkas-berkas terang itu
ke suatu tempat
yang sekiranya membuat terangmu lebih gemilang
Apakah aku berhasil?
Ya, aku berhasil!
Tuhan pun seakan mengizinkanku
untuk mengembalikan cahaya yang kupinjam itu
kepada sang bintang
agar ia tahu sinarnya belum redup
Namun,
sebelum aku meraih gugusmu,
aku harus melewati jembatan yang panjang sekali
Aku menitinya setiap hari
hingga akhirnya jembatan itu memendek
dan membawaku menembus gugusan bintangmu
Tapi aku tidak khawatir
karena tak akan lama lagi,
cahayamu akan jatuh tepat di depan wajahku
dan menggantikan segala dian semu
yang selama ini berusaha kunikmati
Ya, semuanya akan terjadi
meski hanya sekejap mata.
Meski hanya sekejap mata.
Ini aku yang selalu mengharap pijar cahayamu
Aku punya cerita
Tempo hari, aku berusaha menggapai sinarmu
kemudian, aku memindahkan berkas-berkas terang itu
ke suatu tempat
yang sekiranya membuat terangmu lebih gemilang
Apakah aku berhasil?
Ya, aku berhasil!
Tuhan pun seakan mengizinkanku
untuk mengembalikan cahaya yang kupinjam itu
kepada sang bintang
agar ia tahu sinarnya belum redup
Namun,
sebelum aku meraih gugusmu,
aku harus melewati jembatan yang panjang sekali
Aku menitinya setiap hari
hingga akhirnya jembatan itu memendek
dan membawaku menembus gugusan bintangmu
Tapi aku tidak khawatir
karena tak akan lama lagi,
cahayamu akan jatuh tepat di depan wajahku
dan menggantikan segala dian semu
yang selama ini berusaha kunikmati
Ya, semuanya akan terjadi
meski hanya sekejap mata.
Meski hanya sekejap mata.
Thursday, November 26, 2015
Jendela

Jendela
Jendela yang terbuka sedikit
Jendela yang menghadirkan sedikit semilir angin
Jendela yang nyaris tertutup
terlihat gelap dari luar
namun benderang di dalamnya
Jendela
Jendela yang tirainya panjang
Jendela yang kuncinya rapat
dan sulit diterawang dari kejauhan
Jendela
Jendela yang membuatku berandai
akankah ruang di dalamnya hangat
atau dingin terbalut gulita
Aku kerap melewati jendela itu
memandangnya dari jauh seraya tertegun
alangkah beruntungnya apabila aku
bisa menyibak tirainya dan tahu
apa yang tersembunyi di balik jendela itu.
Saturday, November 21, 2015
Tertidur untuk Bangun
Berat kedua kaki
mencoba menapaki hari
Terang surya menyeruak
hanya tertangkap kelam di mataku
Nyaris diri berbuah tanya
Untuk apa semua ini
Demi siapa aku berdiri
Akan jadi apa untaian benang yang kurajut
Aku terus berjalan
berjalan dan berjalan
berharap menemukan ujung lorong
namun hanya gulita yang kujumpai
Kaki terlipat di tengah gelap
Menengadah pun aku tak mampu
Namun terjulur tangan dari jauh
mengajakku untuk kembali berjalan
Aku menyambut tangan itu
Genggaman yang terasa hangat
dan membuatku berani
melanjutkan untaian benangku kembali
Genggaman itu menuntunku
berlari dan terus berlari
untuk menemukan ujung lorong
yang diliputi kegelapan
Gulita pun makin pudar
Roda-roda pun kian mantap bergulir
Jawab dari tanyaku pun akhirnya muncul
Bentuk apa yang olehku terjalin kelak
Terima kasih kulantunkan
bagi empunya tangan itu
Tangan yang kembali menegakkan pasakku
dan pemiliknya adalah kamu
mencoba menapaki hari
Terang surya menyeruak
hanya tertangkap kelam di mataku
Nyaris diri berbuah tanya
Untuk apa semua ini
Demi siapa aku berdiri
Akan jadi apa untaian benang yang kurajut
Aku terus berjalan
berjalan dan berjalan
berharap menemukan ujung lorong
namun hanya gulita yang kujumpai
Kaki terlipat di tengah gelap
Menengadah pun aku tak mampu
Namun terjulur tangan dari jauh
mengajakku untuk kembali berjalan
Aku menyambut tangan itu
Genggaman yang terasa hangat
dan membuatku berani
melanjutkan untaian benangku kembali
Genggaman itu menuntunku
berlari dan terus berlari
untuk menemukan ujung lorong
yang diliputi kegelapan
Gulita pun makin pudar
Roda-roda pun kian mantap bergulir
Jawab dari tanyaku pun akhirnya muncul
Bentuk apa yang olehku terjalin kelak
Terima kasih kulantunkan
bagi empunya tangan itu
Tangan yang kembali menegakkan pasakku
dan pemiliknya adalah kamu
Wednesday, November 4, 2015
Gerbong yang Aneh
Halo, kertas
Sekarang, aku sedang menumpang
pada suatu gerbong kereta
yang bahkan aku tak tahu
ke mana arah tujuannya
Kereta ini terus melaju
Apabila aku terjaga,
jalan kereta ini seperti mengalir
Namun bila aku tertidur
laju gerbong ini begitu cepat
Mula-mula aku bingung
mengapa aku duduk di dalam gerbong ini
Aku seringkali ingin turun
namun lajunya tak kunjung berhenti.
Sekarang, aku sedang menumpang
pada suatu gerbong kereta
yang bahkan aku tak tahu
ke mana arah tujuannya
Kereta ini terus melaju
Apabila aku terjaga,
jalan kereta ini seperti mengalir
Namun bila aku tertidur
laju gerbong ini begitu cepat
Mula-mula aku bingung
mengapa aku duduk di dalam gerbong ini
Aku seringkali ingin turun
namun lajunya tak kunjung berhenti.
Monday, November 2, 2015
Esa

Untuk kamu
bintang yang jauh
bintang yang berpijar tidak lebih terang dari kawannya
bintang yang sulit untuk diraih
bintang yang hampir mustahil kugenggam
aku tidak tahu
akankah kamu masa laluku
yang seharusnya kutimbun rapat-rapat
dan tak seharusnya kutengok kembali
ataukah
kamu masa depanku
yang menjanjikan seberkas cahaya
untuk menerangi jalan lurusku
dan sepantasnya kuperjuangkan
Wednesday, October 28, 2015
Sajak Tanpa Judul
Kepada yang terkasih
yang berjarak ruang
serta detik yang bersimbahan
dan tak seorang pun kuasa memungut
Kepada yang terkasih
yang disekat butir-butir alasan
dan dipisahkan sehelai kertas
yang dipatrikan tinta sangsi
Mungkin
aku belum pantas
menempati ruang itu
Ruang yang aku tidak yakin
akankah hampa atau terisi
yang berjarak ruang
serta detik yang bersimbahan
dan tak seorang pun kuasa memungut
Kepada yang terkasih
yang disekat butir-butir alasan
dan dipisahkan sehelai kertas
yang dipatrikan tinta sangsi
Mungkin
aku belum pantas
menempati ruang itu
Ruang yang aku tidak yakin
akankah hampa atau terisi
Thursday, October 22, 2015
Tiang-tiang Tegak
Halo, bintang
Aku terkenang kernyit dahi kawanku
Mereka semua berlontar tanya
mengapa tiang-tiang tetap berdiri
Tiang-tiang kayu yang seakan lapuk
namun tetap tegar diterpa angin
Aku terkenang kernyit dahi kawanku
Mereka semua berlontar tanya
mengapa tiang-tiang tetap berdiri
Tiang-tiang kayu yang seakan lapuk
namun tetap tegar diterpa angin
Tuesday, October 6, 2015
Bintang yang Baru
Kak,
Adinda sudah menemukan bintang lain
Bintang itu lebih dekat
Sekilas, pijarnya bahkan lebih cemerlang
Kak,
akankah kamu marah
bila Adinda menggapai bintang itu?
Tangan Adinda tidak kosong
Adinda harus melepas genggaman
bila hasrat ini merindukan cahayanya
Kak,
apabila kamu marah,
Adinda akan berhenti merentangkan jemari
agar kerlap sinarmu tiada lolos
dari sela-sela tanganku
Kak,
Adinda masih merindukan
pijar cahayamu yang meski redup
namun lebih hangat
dibanding bintang-bintang lain
yang bertebaran
menerangi gulita ruang waktuku.
Adinda sudah menemukan bintang lain
Bintang itu lebih dekat
Sekilas, pijarnya bahkan lebih cemerlang
Kak,
akankah kamu marah
bila Adinda menggapai bintang itu?
Tangan Adinda tidak kosong
Adinda harus melepas genggaman
bila hasrat ini merindukan cahayanya
Kak,
apabila kamu marah,
Adinda akan berhenti merentangkan jemari
agar kerlap sinarmu tiada lolos
dari sela-sela tanganku
Kak,
Adinda masih merindukan
pijar cahayamu yang meski redup
namun lebih hangat
dibanding bintang-bintang lain
yang bertebaran
menerangi gulita ruang waktuku.
Tegak yang Rubuh
Pagi, bintang
Hari ini, tiang yang berdiri kokoh telah runtuh.
Namun, mentari tetap harus terbit
Bumi harus tetap ditapaki
Jadi, aku harus mengangkat daguku
Aku tetap memunguti bulir detik yang tercecer
agar arah lintasku tiada berpindah.
Hari ini, tiang yang berdiri kokoh telah runtuh.
Namun, mentari tetap harus terbit
Bumi harus tetap ditapaki
Jadi, aku harus mengangkat daguku
Aku tetap memunguti bulir detik yang tercecer
agar arah lintasku tiada berpindah.
Thursday, September 3, 2015
Aku yang Ingin Terlihat
Bintang,
maaf apabila kamu terganggu
Namun sejujurnya,
aku tidak suka bersembunyi
Aku tidak suka kegelapan
Aku tidak suka tirai yang sesak
Aku pikir,
berjalan ke luar akan lebih baik bagiku
aku yang selama ini dibalut gulita
ingin mengandaskan sekat-sekat gelap itu
dan berlari ke arahmu
dengan rupa yang kumiliki apa adanya
Maaf apabila kamu takut
saat menyaksikanku menuju ke arahmu
Sesungguhnya,
aku membutuhkan terangmu
Aku yang selama ini diliputi kelam,
rindu akan hangat cahaya yang membuatku nyaman
Ya, kamu tidak salah
Kamu memiliki cahaya itu
Maka sekali lagi, aku mohon dengan sangat
Jangan kamu takut dan lari
Jangan menambah panjang jembatan yang terbentang
karena sulit bagiku
untuk menemukan seberkas cahaya yang lain
maaf apabila kamu terganggu
Namun sejujurnya,
aku tidak suka bersembunyi
Aku tidak suka kegelapan
Aku tidak suka tirai yang sesak
Aku pikir,
berjalan ke luar akan lebih baik bagiku
aku yang selama ini dibalut gulita
ingin mengandaskan sekat-sekat gelap itu
dan berlari ke arahmu
dengan rupa yang kumiliki apa adanya
Maaf apabila kamu takut
saat menyaksikanku menuju ke arahmu
Sesungguhnya,
aku membutuhkan terangmu
Aku yang selama ini diliputi kelam,
rindu akan hangat cahaya yang membuatku nyaman
Ya, kamu tidak salah
Kamu memiliki cahaya itu
Maka sekali lagi, aku mohon dengan sangat
Jangan kamu takut dan lari
Jangan menambah panjang jembatan yang terbentang
karena sulit bagiku
untuk menemukan seberkas cahaya yang lain
Subscribe to:
Comments (Atom)